Kuliah Umum Magister Media dan Komunikasi Soroti Tantangan Homeless Media dan Krisis Kepercayaan Publik

YOGYAKARTA - Lanskap industri media nasional sedang berada di titik nadir akibat gempuran teknologi digital yang tidak terbendung. Menanggapi fenomena ini, Program Magister Media dan Komunikasi (Medkom), Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora (FISHUM), Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta menggelar kuliah umum bertajuk “Membedah Bisnis Media di Era Disrupsi Komunikasi” pada Jumat (24/04/2026).

Bertempat di Ruang Multimedia Lantai 1 FISHUM, acara ini menghadirkan praktisi sekaligus pakar industri media, Agus Kustiwa, sebagai pembicara utama. Diskusi yang berlangsung dinamis ini dimoderatori oleh Ahmad Zuhri, M.I.Kom, selaku Sekretaris Program Studi Magister Media dan Komunikasi.

Dalam paparannya, Agus Kustiwa membedah akar penyebab krisis ekonomi yang memicu gelombang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) massal di berbagai perusahaan media besar. Ia menyoroti ketergantungan media pada ekosistem platform global seperti Google dan Meta sebagai faktor utama.

“Penyebab utama turunnya pendapatan iklan adalah kegagalan media mendapatkan adsense akibat perubahan algoritma Google dan Meta yang sangat dinamis. Ketika algoritma berubah, trafik anjlok, dan pendapatan pun hilang. Inilah yang membuat pondasi bisnis media konvensional runtuh,” papar Agus dengan lugas.

Kondisi ini, menurut Agus, memaksa media masuk ke dalam pusaran kompetisi yang tidak sehat. Demi mengejar trafik yang disukai algoritma, media cenderung memprioritaskan kecepatan (speed) di atas kualitas (quality) dan akurasi. "Imbasnya sangat fatal, publik mulai kehilangan kepercayaan (distrust) karena informasi yang disajikan seringkali dangkal dan hanya mengejar klik," tambahnya.

Salah satu poin menarik yang disampaikan adalah lahirnya tren Homeless Media atau media alternatif yang beroperasi sepenuhnya di platform media sosial tanpa memiliki infrastruktur situs web mandiri. Strategi ini diambil sebagai upaya efisiensi di tengah pendapatan yang terus terdistrupsi oleh tren konsumsi audiens yang baru.

Agus juga memberikan kritik tajam terhadap lambatnya adaptasi SDM di internal media. “Banyak media, seperti koran dan radio, yang kurang adaptif dalam meng-upgrade kemampuan SDM mereka. Radio kini bukan lagi pilihan utama pengiklan; skema bisnis pun bergeser dari kontrak iklan tetap menjadi bagi hasil (profit sharing). Jika praktisi tidak segera beradaptasi, mereka akan tertinggal,” tegasnya.

Secara akademik, kuliah umum ini tidak hanya menjadi ajang berbagi pengalaman praktis, tetapi juga memperkuat kapasitas keilmuan mahasiswa S2 dalam melihat relasi antara teori dan realitas. Isu-isu yang dibahas bersinggungan langsung dengan kerangka konseptual seperti mediatization, digital disruption, hingga teori ekonomi politik media.

Ketua Program Studi Magister Media dan Komunikasi, Dr. Fatma Dian Pratiwi, M.Si, didampingi Ketua Pelaksana Dr. Yani Tri Wijayanti, menyatakan bahwa institusi memiliki tanggung jawab besar untuk menjembatani gap antara dunia akademik dan industri yang kian melebar.

“Dunia kampus tidak boleh menjadi menara gading. Melalui forum ini, kami ingin mahasiswa mampu mengembangkan pemahaman kritis terhadap perubahan lanskap media. Tantangannya bukan lagi sekadar memproduksi konten, melainkan bagaimana bertahan dalam kompleksitas industri modern tanpa menggadaikan etika,” ujar Dr. Fatma dalam sambutannya.

Kegiatan yang diikuti oleh jajaran dosen dan mahasiswa ini menjadi ruang dialog ilmiah yang produktif. Diskusi berkembang pada strategi monetisasi konten digital yang lebih etis serta peran platform media sosial sebagai kawan sekaligus lawan bagi industri media kontemporer.

Diharapkan, hasil dari kuliah umum ini dapat memperkaya literatur kajian media di lingkungan UIN Sunan Kalijaga serta memberikan kontribusi nyata bagi para praktisi dalam merumuskan model bisnis yang lebih adaptif, berbasis data, namun tetap berorientasi pada kepentingan publik.