Program Magister Media dan Komunikasi FISHUM Gelar Workshop Penyusunan Roadmap Riset dan Pengabdian Kepada Masyarakat
YOGYAKARTA – Program Magister Media dan Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora (FISHUM) menyelenggarakan agenda strategis berupa Workshop Penyusunan Roadmap Riset dan Pengabdian Kepada Masyarakat. Kegiatan akademik ini dilangsungkan secara tatap muka pada hari Senin, 22 Juni 2026, yang bertempat di Ruang Multimedia Lantai 1 FISHUM, dan dimulai sejak pukul 09.00 hingga 12.00 WIB.
Workshop ini dirancang secara khusus untuk memberikan wawasan mendalam serta pengalaman praktis bagi para tenaga pendidik dalam menyusun peta jalan riset dan pengabdian yang terarah, relevan, serta mampu memberikan dampak nyata bagi pengembangan keilmuan sekaligus kesejahteraan masyarakat luas.
Acara ini dibuka secara resmi melalui sambutan yang disampaikan oleh Wakil Dekan Bidang Akademik Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora, Ambar Sari Dewi, Ph.D. Dalam sambutannya, beliau memaparkan konteks bahwa Program Magister di FISHUM merupakan program studi yang terbilang baru dan saat ini tengah berfokus pada proses akreditasi, sehingga penyusunan peta jalan ini menjadi langkah yang krusial.
"Program Magister di FISHUM adalah prodi baru, dan saat ini sedang dalam proses akreditasi, selain itu juga diselenggarakan acara workshop penyusunan roadmap riset dan PKM ini sebagai sarana menjamin kualitas di bidang riset dan pengabdian. Tujuannya supaya riset dan pkm in line dengan keilmuan oleh karena itu perlunya untuk menyusun roadmap," tuturnya di hadapan para peserta.
Rangkaian diskusi dan pemaparan materi kemudian dipandu secara interaktif oleh Kurnia Indasah, S.Kom.I., M.A., yang bertindak selaku moderator. Pada kesempatan tersebut, beliau memberikan informasi terkini mengenai perkembangan progresif program studi.
"Di prodi ini angkatan pertama semester 3, lulusan pertama semoga bisa di Agustus mendatang. Sudah ada satu mahasiswa yang sempro," ungkapnya dengan penuh optimisme.
Moderator kemudian memperkenalkan narasumber utama kegiatan ini, yakni Dr. Wisnu Widjanarko, seorang akademisi berpengalaman dari Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) yang juga menjabat sebagai Sekretaris Lembaga Penjaminan Mutu dan Pengembangan Pembelajaran (LPMPP) sekaligus bertugas sebagai asesor LAMSPAK.
Mengawali materi inti, Dr. Wisnu Widjanarko menyoroti bahwa perumusan visi merupakan pilar utama yang mendasari seluruh kerangka penyusunan peta jalan. Beliau menegaskan prinsip dasarnya, yakni, "Visi adalah kunci. Visi UPPS harus memayungi visi keilmuan prodi dan in line dengan visi perguruan tinggi".
Oleh karena itu, dalam melakukan tinjauan terhadap dokumen peta jalan yang sedang disusun, Dr. Wisnu menyarankan agar komponen krusial seperti profil lulusan, pemetaan sumber daya dosen, integrasi data riset, dan rekam jejak pelibatan mahasiswa dipetakan dengan baik sebagai basis analisis untuk mengarahkan payung penelitian program studi.
Bagian paling kritis dan menarik dari pemaparan narasumber menyentuh pada aspek pemaduan antara nilai-nilai keislaman dan keilmuan media komunikasi. Dr. Wisnu mengingatkan para peserta untuk berhati-hati dalam menarasikan nilai-nilai agama dalam sebuah riset ilmiah.
Beliau menuntut para akademisi untuk, "Menghindari jebakan labelisasi artifisial: integrasi substantif menurut keberanian untuk merombak metodologi pada level epistemologis dan aksiologis, bukan sekedar menempelkan ayat suci pada teori barat". Secara konkret, hal ini berarti para dosen harus mampu menggunakan etika keislaman sebagai pendekatan yang mendalam. "Mengubah nilai menjadi pisau analisis, mahasiswa dan dosen didorong untuk menjadikan keislaman sebagai sudut pandang kritis untuk membedah disrupsi media kontemporer," tambahnya.
Gagasan konseptual tersebut memantik antusiasme dalam sesi tanya jawab, yang salah satunya datang dari seorang dosen bernama Bu Fatma. Ia menyampaikan realitas di lapangan mengenai latar belakang Dosen Tetap Program Studi (DTPS) yang beragam. "DTPS tidak memiliki latar belakang keislaman, melalui pemaparan narasumber, kami mendapat insight bahwa kita harus tau dimana kita harus bisa berdiri," jelasnya.
Dr. Wisnu merespons dengan saran praktis bahwa setiap isu riset dan pengabdian yang diangkat harus selalu berpedoman teguh pada peta jalan yang telah dinegosiasikan dan disepakati bersama. Hal ini sangat penting agar peta jalan penelitian pribadi masing-masing dosen tidak dirasakan sebagai sebuah paksaan, melainkan dapat berjalan selaras, harmonis, dan seimbang dengan potensi sumber daya yang dimiliki oleh institusi saat ini.