Dari Kamera Ponsel ke Pasar Digital, Dr. Diah Ajeng Purwani Dampingi UMKM Kebondalem Lor
KLATEN, 1 Agustus 2026 — Sebuah kamera ponsel, satu meja kayu sederhana, dan pencahayaan alami dari jendela ternyata mampu mengubah cara pandang pelaku usaha rumahan terhadap produknya sendiri. Itulah salah satu momen yang mengemuka dalam kegiatan pengabdian masyarakat bertajuk "Naik Kelas Bersama Digital: Membangun UMKM yang Kreatif, Adaptif, dan Berdaya Saing melalui Branding dan Digital Marketing" yang diselenggarakan di Desa Kebondalem Lor, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Klaten, pada Sabtu, 1 Agustus 2026.
Selama ini, pelaku UMKM di Desa Kebondalem Lor umumnya mengandalkan media sosial sekadar sebagai ruang eksistensi, bukan sebagai etalase yang dikelola secara strategis untuk memperkenalkan produk. Foto produk diunggah apa adanya, tanpa narasi maupun sentuhan visual yang mampu menarik perhatian calon pembeli. Padahal, di tengah membanjirnya konten promosi di lini masa media sosial, kemampuan menampilkan produk secara menarik menjadi penentu apakah sebuah usaha kecil dilirik atau justru terlewatkan begitu saja oleh calon konsumen.
Kegiatan ini menghadirkan Dr. Diah Ajeng Purwani, S.Sos., M.Si., Dosen Media dan Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora (FISHUM) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, sebagai narasumber utama. Pelaksanaan di lapangan difasilitasi oleh mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) UIN Sunan Kalijaga yang bertugas di Desa Kebondalem Lor, sebagai bagian dari program kerja mereka untuk menjembatani kebutuhan literasi digital pelaku UMKM setempat dengan narasumber yang kompeten di bidangnya. Mahasiswa KKN berperan mendampingi jalannya sesi praktik, mulai dari pengaturan sudut pengambilan gambar hingga penyusunan kalimat promosi di kolom keterangan unggahan, sementara arahan dan substansi materi sepenuhnya disampaikan oleh Dr. Diah Ajeng Purwani.
Sebagai bentuk keberlanjutan dari kegiatan ini, Dr. Diah Ajeng Purwani turut menyusun Modul 1 yang memuat rangkuman materi storytelling produk, teknik caption persuasif, dan fotografi produk secara lebih rinci dan sistematis. Modul tersebut diserahkan kepada peserta agar dapat dipelajari secara mandiri setelah kegiatan berakhir, sehingga pemahaman yang diperoleh tidak berhenti pada sesi tatap muka, melainkan dapat terus diulang dan dipraktikkan sesuai kebutuhan masing-masing pelaku usaha.
Berbeda dari pelatihan pemasaran digital pada umumnya yang cenderung berhenti pada teori, kegiatan di Desa Kebondalem Lor ini dirancang dengan pendekatan learning by doing. Peserta diajak langsung mempraktikkan tiga kemampuan dasar secara berurutan: pertama, storytelling produk, yaitu menyusun cerita di balik proses pembuatan atau nilai historis suatu produk agar tercipta ikatan emosional dengan pembeli; kedua, teknik penulisan caption persuasif yang ringkas namun mampu menggerakkan rasa ingin tahu maupun keinginan membeli; dan ketiga, fotografi produk sederhana menggunakan kamera ponsel, dengan penekanan pada pemanfaatan cahaya alami dan penataan latar agar tampilan produk terlihat lebih profesional tanpa biaya tambahan.
Sesi ini berlangsung cukup hidup lantaran peserta tidak hanya mendengarkan, tetapi juga saling menilai hasil foto dan caption yang dibuat oleh sesama peserta. Diskusi semacam ini secara tidak langsung menumbuhkan kebiasaan evaluasi diri, sebuah keterampilan yang jarang dimiliki pelaku usaha kecil yang selama ini bekerja sendiri tanpa masukan dari pihak lain mengenai kualitas konten promosinya.
Kegiatan ini diharapkan menjadi titik awal bagi pelaku UMKM Kebondalem Lor untuk mengelola akun media sosial usahanya secara lebih terencana, sehingga produk yang selama ini hanya dikenal di lingkup desa dapat menjangkau pasar yang lebih luas. Perluasan pasar tersebut pada gilirannya diharapkan turut mendorong peningkatan pendapatan dan daya saing usaha di tengah persaingan pasar digital yang semakin ketat.
Pada akhirnya, kegiatan sederhana semacam ini menyimpan makna yang tidak sederhana. Ia menegaskan bahwa peran akademisi tidak selalu diukur dari riset besar di ruang kelas, melainkan juga dari kesediaan turun langsung membekali masyarakat dengan pengetahuan yang aplikatif, dengan dukungan mahasiswa KKN sebagai penghubung di lapangan. Bagi Desa Kebondalem Lor, pelatihan ini menjadi pengingat bahwa modal untuk naik kelas tidak selalu berupa uang, tetapi juga keberanian untuk belajar cara baru dalam bercerita tentang usaha yang telah lama mereka jalani.