Dosen S2 Media dan Komunikasi Jadi Dosen Tamu di Kuliah Umum FISIPOL UNESA, Bagikan Wawasan Mengenai Riset AI

SURABAYA — Tiga akademisi dari Program StudiMedia dan Komunikasi Program Magister, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta, hadir sebagai pemateri utama dalam kuliah umum yang diselenggarakan oleh Ilmu Komunikasi Universitas Negeri Surabaya (UNESA). Kegiatan akademik ini berlangsung pada Rabu, 16 September 2026, bertempat di Gedung I8 Lt.3 Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIPOL) UNESA.

Di hadapan mahasiswa Ilmu Komunikasi UNESA angkatan 2025 dan 2026, ketiga pakar komunikasi UIN Sunan Kalijaga tersebut berbagi pengalaman dan gagasan strategis mengenai pemanfaatan Kecerdasan Buatan (AI) di bidang akademik, khususnya dalam riset komunikasi. Kuliah umum ini dibuka langsung oleh Dekan FISIPOL UNESA, Prof. Dr. Wiwik Sri Utami, M.P, dan dipandu oleh mahasiswa Ilmu Komunikasi UNESA angkatan 2026 selaku moderator.

Sesi pemaparan diawali oleh Prof. Dr. Rama Kertamukti, M.Sn., yang membawakan materi seputar pemanfaatan AI untuk mengidentifikasi dan mencari teori penelitian. Tidak hanya berbicara tataran konsep, Prof. Rama juga mendemonstrasikan aplikasi berbasis machine learning yang dikembangkan secara mandiri oleh timnya. Ia menyoroti pentingnya instrumen digital untuk mengefisiensikan penelusuran data bagi para peneliti kontemporer, yang mana alat tersebut telah diintegrasikan ke dalam repositori GitHub.

Pemaparan kemudian dilanjutkan oleh Dr. Fatma Dian Pratiwi, M.Si., yang mengupas secara mendalam tentang literasi AI dari kacamata riset media dan komunikasi. Ia menyoroti fenomena interaksi manusia dengan AI yang belakangan ini terasa sangat personal hingga mampu memberikan afirmasi emosional.

Terkait hal tersebut, Dr. Fatma mengingatkan agar para akademisi tidak kehilangan otonominya. "Keunggulan mutlak manusia terletak pada akal budi. Secanggih apa pun teknologi yang kita gunakan dalam riset, peneliti tetaplah subjek utama yang memegang kemudi, sementara AI hanyalah alat bantu," tegasnya.

Sementara itu, Achmad Zuhri, M.I.Kom., menutup sesi materi dengan bahasan mengenai urgensi critical thinking (kemampuan berpikir kritis) dalam interaksi dengan AI. Ia menggarisbawahi bahwa inisiatif adalah kapasitas eksklusif manusia yang tidak dimiliki oleh AI.

Menurutnya, AI sangat ideal jika diposisikan sebagai rekan diskusi untuk membedah masalah. "Perkembangan teknologi menuntut kita untuk menjadikan nalar kritis sebagai fondasi utama. Tanpa pikiran kritis, akademisi akan mudah terseret arus dan hanya menelan informasi mentah dari AI," jelas Zuhri.

Keterlibatan dosen S2 Media dan Komunikasi UIN Sunan Kalijaga dalam forum ini merupakan wujud nyata kontribusi program studi dalam merespons tantangan disrupsi teknologi di tingkat nasional. Kolaborasi lintas perguruan tinggi ini diharapkan dapat membekali mahasiswa dengan pemahaman komprehensif, sehingga mampu menjadikan AI sebagai katalisator riset akademik yang berintegritas.