Prodi Media dan Komunikasi UIN Sunan Kalijaga Pertama Kalinya Gelar Simulasi dan Review Borang Akreditasi LAMSPAK

Program Studi Media dan Komunikasi UIN Sunan Kalijaga untuk pertama kalinya menggelar Simulasi dan Review Borang Akreditasi LAMSPAKsebagai bagian dari upaya memperkuat kesiapan program studi menghadapi proses akreditasi sekaligus meningkatkan mutu akademik secara berkelanjutan. Kegiatan ini tidak hanya diarahkan pada pemenuhan dokumen akreditasi, tetapi juga menjadi ruang untuk mengevaluasi kurikulum, proses pembelajaran, capaian lulusan, serta arah pengembangan program studi.

Kegiatan dibuka oleh Wakil Dekan Bidang I Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora, Ambar Sari Dewi, Ph.D.Dalam sambutannya, ia menekankan bahwa akreditasi perlu dipahami lebih luas daripada sekadar proses pemenuhan administrasi. Akreditasi sekaligus menjadi momentum bagi program studi untuk meninjau kembali relevansi kurikulum dengan perubahan lingkungan pendidikan tinggi serta dinamika bidang media dan komunikasi.

“Kurikulum tidak bisa diperlakukan sebagai dokumen yang selesai sekali kemudian digunakan terus-menerus. Perubahan teknologi, karakter mahasiswa, dunia kerja, serta perkembangan keilmuan menuntut kurikulum untuk terus beradaptasi dan berubah. Karena itu, proses review seperti ini penting untuk memastikan apa yang kita ajarkan tetap relevan dengan kompetensi yang harus dimiliki lulusan di masa depan,” ujar Ambar.

Hadir sebagai pemateri Nisa Kurnia Illahiati, Ph.D. dari Universitas Airlangga, yang membawakan materi bertajuk Rethinking the Curriculum: Aligning Graduate Profiles, Learning Outcomes, and the Future of Media and Communication Studies. Materi tersebut menempatkan evaluasi kurikulum sebagai proses untuk menguji kembali relevansi kemampuan lulusan, keterhubungan antarmata kuliah, bukti capaian pembelajaran mahasiswa, hingga bagian-bagian yang perlu diprioritaskan untuk diperbaiki.

Nisa menjelaskan bahwa lanskap komunikasi saat ini mengalami perubahan besar. Platformisasi, perkembangan generative artificial intelligence, datafikasi, serta semakin terfragmentasinya publik telah mengubah cara komunikasi diproduksi, didistribusikan, dan dikonsumsi. Perubahan tersebut membuat program studi media dan komunikasi perlu terus memeriksa apakah kurikulum yang diterapkan masih mampu menjawab perkembangan zaman.

“Review kurikulum bukan berarti setiap ada perkembangan baru kita harus menambah mata kuliah baru. Pertanyaan yang lebih penting adalah: kemampuan apa yang benar-benar dapat ditunjukkan oleh lulusan setelah menyelesaikan studinya? Dari situlah struktur pembelajaran, mata kuliah, metode asesmen, dan bukti capaian mahasiswa seharusnya dibangun,” jelas Nisa.

Ia menekankan perlunya pergeseran dari kurikulum yang sekadar content-driven menuju kurikulum yang outcome-aligned. Dengan pendekatan tersebut, penyusunan kurikulum tidak berhenti pada pertanyaan mengenai mata kuliah apa yang harus ditawarkan, tetapi bergerak pada kemampuan konkret yang harus dapat ditunjukkan oleh lulusan.

Dalam sesi pemaparan, peserta juga diajak melihat kembali keterhubungan antara visi institusi, profil lulusan, Capaian Pembelajaran Lulusan (CPL), struktur mata kuliah, CPMK, hingga asesmen. Keseluruhan komponen tersebut perlu membentuk satu rangkaian yang saling terhubung sehingga capaian pembelajaran tidak hanya tertulis dalam dokumen, tetapi dapat dibuktikan melalui proses dan hasil belajar mahasiswa.

Pembahasan kemudian diarahkan pada implementasi Outcome-Based Education (OBE). Nisa menegaskan bahwa OBE bukan sekadar pekerjaan administratif, melainkan sistem pembelajaran yang dimulai dari perumusan capaian, desain pembelajaran, pengumpulan bukti asesmen, evaluasi hasil, hingga perbaikan secara berkelanjutan.

“OBE seharusnya tidak berhenti pada kelengkapan dokumen. Data hasil pembelajaran harus kembali digunakan untuk mengambil keputusan. Ketika ditemukan kesenjangan, program studi perlu mengetahui apa yang harus diperbaiki, siapa yang bertanggung jawab, dan bukti apa yang nantinya menunjukkan bahwa perbaikan tersebut benar-benar dilakukan,” tambah Nisa.

Kegiatan yang dimoderatori oleh Kurnia Indasah, M.A.tersebut berlangsung interaktif melalui proses simulasi, review, dan diskusi terhadap berbagai komponen yang berkaitan dengan kesiapan akreditasi. Peserta diajak mengidentifikasi bagian-bagian yang perlu dipertahankan, diperbaiki, maupun dipikirkan kembali dengan mendasarkan keputusan pada bukti dan kebutuhan pengembangan program studi.

Simulasi dan review ini sekaligus menjadi ruang refleksi bagi Program Studi Media dan Komunikasi untuk melihat akreditasi bukan semata-mata sebagai proses penilaian eksternal, tetapi sebagai bagian dari upaya membangun budaya mutu. Kurikulum, pembelajaran, asesmen, riset, dan profil lulusan perlu terus dibaca sebagai satu kesatuan yang saling terhubung.

Melalui kegiatan ini, Program Studi Media dan Komunikasi UIN Sunan Kalijaga diharapkan semakin siap menghadapi proses akreditasi LAMSPAK sekaligus mampu menjadikan evaluasi sebagai bagian dari pengembangan akademik yang berkelanjutan. Review borang pada akhirnya tidak hanya diarahkan pada pencapaian hasil akreditasi terbaik, tetapi juga untuk memastikan bahwa penyelenggaraan pendidikan tetap relevan, terukur, dan responsif terhadap perubahan bidang media dan komunikasi.