Guru PAI Ditantang Lebih Kreatif, Dr. Diah Ajeng Purwani Bagikan Strategi Pembelajaran

YOGYAKARTA, 15 Agustus 2026 — Di tengah tantangan dunia pendidikan yang terus berkembang, kemampuan guru dalam merancang strategi pembelajaran yang relevan menjadi faktor penentu keberhasilan penanaman nilai-nilai keagamaan kepada peserta didik. Menjawab kebutuhan tersebut, digelar kegiatan "Workshop Strategi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam bagi Guru Pendidikan Agama Islam SMP se-Kota Yogyakarta" yang berlangsung di Pondok Pesantren Suluh Melayu, Jalan Gambiran Nomor 85, Pandean, Umbulharjo, Yogyakarta, pada Sabtu, 15 Agustus 2026.

Bertindak sebagai narasumber dalam workshop ini adalah Dr. Diah Ajeng Purwani, S.Sos., M.Si., Dosen Media dan Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora (FISHUM) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Selain itu Narasumber lainnya adalah Prof. Bermawy Munthe dari UIN Sunan Kalijaga. Kegiatan berlangsung di lingkungan Pondok Pesantren Suluh Melayu dan diikuti oleh para guru PAI dari berbagai Sekolah Menengah Pertama (SMP) di wilayah Kota Yogyakarta, yang hadir sebagai peserta aktif dalam rangkaian workshop.

Kegiatan ini digagas untuk merespons kebutuhan guru Pendidikan Agama Islam (PAI) tingkat SMP akan ruang pembelajaran bersama yang dapat mempertemukan mereka lintas sekolah di Kota Yogyakarta. Selama ini, guru PAI di masing-masing sekolah kerap mengembangkan strategi pembelajaran secara mandiri berdasarkan pengalaman mengajar di kelasnya masing-masing, tanpa banyak kesempatan untuk saling bertukar metode maupun pendekatan pedagogis dengan sesama pengajar dari sekolah lain. Melalui workshop ini, para guru diharapkan dapat memperkaya wawasan strategi pembelajaran sekaligus memperkuat jejaring profesional antar guru PAI se-Kota Yogyakarta.

Dalam pemaparannya, Dr. Diah Ajeng Purwani memperkenalkan dua strategi pembelajaran aktif yang dapat langsung diterapkan guru PAI di kelas, yaitu metode debat konstruktif dan metode roleplay berbasis skenario reflektif. Pada metode debat konstruktif, peserta dikenalkan pada teknik memancing argumen menggunakan prompt kecerdasan buatan (AI) seputar isu-isu yang dekat dengan keseharian remaja, seperti kecenderungan curhat kepada chatbot AI dibandingkan bercerita kepada orang tua atau guru, pembuatan konten prank demi mengejar like dan followers, hingga kebiasaan konsumtif atau self-reward berlebihan di kalangan siswa SMP. Argumen yang dihasilkan AI kemudian di debat langsung oleh siswa dalam kelompok pro dan kontra, sehingga peserta didik terlatih berpikir kritis sekaligus memahami batas etis penggunaan teknologi. Sementara itu, metode roleplay disampaikan melalui tiga skenario, meliputi kasus dendam pribadi yang berujung rencana kekerasan, konflik siswa dengan petugas keamanan sekolah, serta kasus kekerasan yang direkam dan disebarluaskan di media sosial. Setiap skenario dilengkapi pembagian peran dan pertanyaan refleksi yang mengaitkan peristiwa dengan nilai-nilai keagamaan, seperti pengendalian amarah, adab kepada figur otoritas, larangan menyebarkan aib orang lain, tanggung jawab sebagai saksi, serta pentingnya proses tobat dan permintaan maaf yang tulus.

Sesi workshop berlangsung interaktif, diisi dengan simulasi langsung kedua metode tersebut, di mana para guru berperan sebagai fasilitator sekaligus mencoba memerankan tokoh-tokoh dalam skenario roleplay. Antusiasme peserta tampak dari aktifnya sesi diskusi, di mana sejumlah guru turut menyampaikan bagaimana kedua metode ini berpotensi memudahkan mereka menyampaikan nilai-nilai keagamaan terkait isu-isu kontemporer, seperti ketergantungan pada teknologi, perundungan, dan gaya hidup konsumtif, yang selama ini kerap sulit dibahas melalui metode ceramah konvensional.

Selain strategi diatas, berbagai strategi menarik lain seperti physical assessment, billboard ranking, binggo juga dikenalkan oleh Prof. Bermawy Munthe. Kegiatan ini diharapkan mampu meningkatkan kualitas pembelajaran Pendidikan Agama Islam di tingkat SMP se-Kota Yogyakarta, sekaligus membekali guru dengan metode pembelajaran yang lebih aplikatif dalam menjawab persoalan moral dan digital yang dihadapi siswa sehari-hari. Metode debat konstruktif dan roleplay yang diperkenalkan diharapkan dapat membantu peserta didik memahami nilai-nilai keagamaan tidak sekadar sebagai materi hafalan, melainkan sebagai pijakan berpikir kritis dan bersikap dalam menghadapi persoalan nyata di sekitar mereka.

Pada akhirnya, kegiatan ini menegaskan bahwa peningkatan mutu pendidikan agama tidak dapat dilepaskan dari peningkatan kapasitas para pengajarnya. Bagi guru PAI se-Kota Yogyakarta, workshop ini menjadi pengingat bahwa proses belajar tidak hanya berlaku bagi peserta didik, tetapi juga bagi para pendidik yang senantiasa dituntut untuk terus memperbarui strategi mengajarnya demi menghadirkan pembelajaran agama yang bermakna bagi generasi mendatang.